Begadang, Stres & Merokok Tingkatkan Risiko Serangan Jantung Usia Muda

Berbagai kebiasaan yang dianggap wajar di usia muda seperti begadang, stres berkepanjangan, konsumsi kopi berlebihan, hingga merokok, kerap tak disadari merupakan pemicu risiko serangan jantung. Sekalipun sering terjadi pada usia lanjut, kalangan muda pun tak luput dari risiko ini jika memiliki gaya hidup tak sehat.

Diawali oleh gejala ringan seperti nyeri dada, jantung berdebar, cepat lelah, atau sesak saat beraktivitas, dr. Aron Husink, Sp.JP, Subsp.KI (K), FIHA, FSCAI, dari Mayapada Hospital Tangerang mengingatkan bahwa risiko semakin tinggi jika disertai hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau ada riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

“Anak muda sering terjebak dalam toxic productivity dan gaya hidup tidak sehat yang meningkatkan risiko serangan jantung, berkaitan dengan penyakit jantung koroner karena penyempitan pembuluh darah jantung akibat penumpukan plak,” kata dr. Aron.

Dr. Aron menjelaskan, kebiasaan begadang berisiko mengganggu keseimbangan hormon stres, tekanan darah, gula darah, dan metabolisme lemak, yang membuat beban pada jantung dan pembuluh darah semakin besar. Sementara, stres yang tidak dikelola dapat membuat tubuh terus berada dalam mode waspada.

“Dalam kondisi ini, detak jantung dan tekanan darah dapat meningkat sehingga jantung bekerja lebih keras dari biasanya,” katanya.

Adapun rokok mengandung zat yang dapat merusak dinding pembuluh darah, meningkatkan pembekuan darah, dan mempercepat terbentuknya plak. Dr. Aron menjelaskan, pembuluh darah perokok berusia muda yang tampak sehat pun rentan mengalami gangguan.

Untuk itu, Dr. Aron meminta agar tak mengabaikan sinyal-sinyal tubuh, yang sering disalahartikan sebagai ‘masuk angin, asam lambung, kelelahan, atau efek stres. Akibatnya, anak muda tidak langsung memeriksakan diri.

Sinyal tersebut antara lain termasuk nyeri dada seperti ditekan, tertindih, panas, atau menjalar ke lengan kiri, punggung, leher, rahang, maupun ulu hati, dengan disertai sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, tubuh sangat lemas, atau jantung berdebar tidak biasa.

Menurut dr. Aron, risiko serangan jantung di usia muda itu dapat dicegah, dimulai dari perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten. Perubahan yang dimaksud mencakup berhenti merokok, tidur cukup, mengelola stres, menjaga pola makan, dan rutin berolahraga.

“Tidak harus langsung olahraga berat, aktivitas sederhana seperti jalan kaki, naik tangga, atau bersepeda ringan juga dapat membantu menjaga kesehatan jantung,” ujar dr. Aron.

Usia muda adalah waktu yang ideal untuk membangun kebiasaan sehat dan menjaga kesehatan jantung demi kualitas hidup jangka panjang. Pemeriksaan rutin dianjurkan sebagai deteksi dini untuk penanganan lebih awal seperti, pemeriksaan elektrokardiogram, pemeriksaan darah, ekokardiografi, treadmill test, CT scan jantung, atau pemeriksaan lanjutan lainnya.